Bus terperosok di kampus UIN Bandung.

Standar

ban bus cipaganti yang terperosok di paving block

Mahasiswa jurusan PBI (Pendidikan Bahasa Inggris) yang seharusnya telah berangkat menuju Bali dalam rangka study tour, hanya bisa terduduk lesu di pinggiran jalan yang ada di kampus. Salah satu bus yang seharusnya mereka tumpangi terperosok ke paving block yang berada di depan gedung ex. Fakultas psikologi yang sekarang menjadi lahan parkir.

Bus bintang lima dari cipaganti travel tersebut terperosok saat  sedang mencari tempat parkir. Paving block yang menutupi selokan tersebut ambruk karena tidak kuat menahan bebaan bus tersebut. Menurut salah satu sumber, itu disebabkan oleh jembatan tersebut tidak dibangun dengan pondasi yang kokoh yang seharusnya diisi oleh besi tapi malah dibiarkan kosong.  Bus ini bukanlah yang pertama, bus IPDN juga pernah mengalami hal yang serupa beberapa waktu yang lalu. Untuk mengangkut ban, akhirnya pihak cipaganti mengirimkan mobil derek, dan beberapa menit kemudian barulah mobilnya bisa di pakai.

(Sumber http://www.suakaonline.com/2012/05/22/paving-block-rapuh-ban-mobil-bus-cipaganti-terperosok-ke-lubang/)

2 Larangan di taman UIN Bandung

Standar

larangan yang lebih dulu ditempel di depan gedung rektorat

larangan yang ada di taman uin bandung

seorang satpam sedang memaku larangan yang saya sebut famplet di taman uin bandung

Jikalau anda berkunjung ke UIN Bandung, Yang beralamat di jalan A.H Nasution No. 105, anda akan menemukan hal yang sangat tidak enak untuk di pandang. Mulai dari sampah yang berserakan dimana-mana, parkir kenderaan yang berantakan, pembangunan yang terhenti yang sangat mengganggu serta ada hal baru yang tidak kalah “ngeri”-nya. Yaitu famplet larangan. Famplet itu bis adilihat di depan rektorat dan di taman sekitar rektorat. Ada dua macam famplet. Yang satu berbunyi “Dilarang nongkrong di depan rektorat” yang satunyalagi berbunyi dilaang nongkrong di taman saat adzan magrib”

Mengenai larangan tersebut,  beberapa mahasiswa ada yang setuju, ada yang tidak  mau tau ada juga yang tidak setuju. Yang setuju bilang, “Bagus, soalnya inikan UIN, masa magrib masih nongkrong dan kalau di rektorat, ya emang ga enak dilihat.” Dan yang tidak setuju bilang,”mengenai larangan dilarang nongkrong di rektorat, harusnya sediain dulu tempat nongkrong yang cukup, baru boleh ngelarang. Kalo  soal yang dilarang nongkrong di taman saat magrib, ya itu hak masing masing orang. Belum tentu kan yang lagi nongkrong ga shalat. Dan apa mungkin yang sedang dirumah itu shalat? Tidak,kan?”

Itulah pendapat pro dan kontra.  Kalau ditelusuri, pendapat yang pro itu benar, sebagai universitas islam yang memang seharusnya lebih agamis mahasiswanya dan memang sedikit mengganggu penglihatan tentang banyaknya yang nongkrong di depan rektorat. Tapi kalau melihat pendapat yang kontra, benar juga. Mungkin saja yang nongkrong habis shalat magrib di masjid khifa (disamping kampus) nongkrong disana buat nunggu waktu isya, walaupun  masih lemah pendapatnya tapi masih bisa dipegang. Dan mengenai larangan nongkrong di depan rektorat, itu memang tidak masuk akal. Apalagi tidak adanya taman lain yang disediakan oleh pihak kampus untuk mahasiswanya. Apakah cukup hanya dengan empat saung kecil di fakultas dakwah,tarbiyah dan syariah dan satu saung di fakultas ushuluddin untuk menampung ribuan mahasiswa uin? Apalagi keadaan kampus yang masih dalam pembangunan yang terhenti dan gersang. Itu sangat memaksakan dan tidak mungkin. Dan itulah yang menyebabkan kedua larangan itu diabaikan.

Pendapat penulis : itu adalah dua hal yang memperlihatkan ketidakberpihakkannya pihak kampus (rektor-red) kepada mahasiswa. Dan itu terlihat sangat konyol bagi mahasiswa, karena masih banyak yang lebih penting dari itu untuk dibahas. Mulai dari masalah kuliah, banyak dosen yang tidak tepat waktu, atau seenaknya, terus dari pembangunan yang semakin mengorbankan mahasiswa, pohon-pohon yang tidak dijaga. Sampah bertebaran dimana-mana karena kurangnya tempat sampah (lebih dari kurang) dan parkiran yang tidak teratur. Nah, kalau bicara soal parkiran, di halaman gedung 3 fakultas yaitu syariah, dakwah dan tarbiyah seharusnya tidak dijadikan tempat parkir, tapi malah dijadikan tempat parkir kenderaan. Lebih tidak enak dipandang dari pada sekumpulan mahasiswa yang sedang nongkrong sambil berdiskusi di depan rektorat. Serta masalah toilet juga yang  jarang tersorot oleh media kampus. sangat jorok. Seperti di aula, sangat tidak layak buat digunakan. Coba pikir, diatas masalah yang menumpuk itu, kenapa yang dilarang malah mahasiswa yang nongkrong?

Lagipula, mahasiswa yang sedang nongkrong kebanyakan dari mereka malah sedang berdiskusi tentang hal yang positif dan sangat bermanfaat. Dimana keadilan kampus bagi mahasiswa?

Teater Awal Bandung – Semangat berkarya, tak lekang oleh fasilitas

Standar

Sedang latihan di lahan bekas lapangan sepak bola.

UIN Sunan Gunung Djati atau biasa di kenal sebagai UIN Bandung, saat ini sedang mengalami perbaikan pembangunan. Proses yang memakan waktu tersebut mengakibatkan banyaknya bangunan yang diruntuhkan dengan alasan akan dibangun yang lebih baru dan lebih megah. Tapi, semua hal didunia ini tak luput dari proses dan dalam proses menuju kesana tentu juga tidak luput dari pengorbanan. Salah satu bentuk pengorbanan adalah kurangnya bangunan yang seharusnya menjadi tempat beberapa kegiatan mehasiswa. Sehingga itu bisa menghambat kinerja mahasiswa.

Tapi, tidak begitu halnya dengan teater awal bandung. UKM Teater  kampus Universitas Islam Negeri Bandung ini tidak menjadikan itu seba

Sedang latihan di halaman fakultas syiriah dan dakwah

gai alasan untuk menghambat karya. Sebenarnya masih ada tersisa Auditorium UIN yang bisa dipakai untuk berkarya. Tapi sebagai auitorium, tentu itu tidak selamanya kosong. Apalagi ada banyak mahasiswa yang berstatus kuliah di kampus itu. Pastinya ada saja acara yang diadakan setiap minggu. Nah saat audoitorium itu dipakai, maka para seniman teater inipun mencari tempat lain. Yaitu di depan gedung fakultas syariah, dakwah dan tarbiyah yang membentuk lapangan persegi. Dilapangan yang tak beratap dan berdinding tiga gedung itulah tempat pelampiasan mereka. Bahkan, tidak jarang juga kedua tempat ini dipakai, sehingga latihanpun bergeser ke sebuah lahan yang kosong yang dulunya lapangan sepak bola tapi sedang dalam pembangunan (pembangunan yang macet). tanah yang tidak rata, rumput tajam dimana-mana. Sedikit rasa kesal pasti terselip di hati para aktor dan aktris teater tersebut, tapi mau bagaimana lagi. Kalau terlalu sering mengeluh takkan ada hasil apalagi bagi para pecinta seni yang haus karya. Bagi mereka, sebagai makhluk kreatif, kita tidak boleh manja dengan fasilitas. Kita harus bisa menjadikan apasaja sebagai fasilitas.

Pertemuan Eksklusif dengan Pak Sariban

Standar

 Waktu itu, Saya, bersama tiga teman saya, Ratu, Ninit dan Nasrul sedang jalan-jalan di Jalan pahlawan. Kami habis mengejakan sebuah tugas dari matakuliah pendidikan jurnalistik, yaitu “Wawancara”. Kami mewawancarai sebuah event pertandiangan futsal di gor citra. Karena merasa sudah cukup, kamipun ingin melanjutkan jalan-jalan buat observasi lokasi syuting film pendek kita (Komunitas TDM) yang berjudul biskuit. Nah, dalam perjalanan itulah kami dipertemukan dengan sosok eksotis yang bernama H. Sariban, tapi biasa di panggil Pak Iban.

Awalnya, saya tidak mengenali sosok beliau, begitu juga ninit dan nasrul. Tapi, Ratu mengenalinya dan bersikeras ingin mewawancarainya. “Dia sering muncul di TV,” Alasan ratu. Karena kami sama-sama penasaran, kamipun mendekati beliau.

Beliau tidak menyadari kedatangan kami. Kagum sekali saya melihat beliau. Tanpa malu beliau memungut sampah yang ada di sekelilingnya. bahkan tak tanggung-tanggung beliau ikut masuk ke got tersebut. Tapi, saya juga iba. Dijalanan dengan mobl-mobil mewah berlalu lalang, tak ada satupun yang ingin ikut turun tangan membantu beliau. Malu juga, Saya cuma bisa menonton. Akhirnya, dengan sedikit malu, kami mendekati beliau. Awalnya kami memberi salam, dan meminta izin untuk diwawancarai. Baliau tersenyum dan langsung menawarkan pilihan, “Ini bagaimana, Saya itanya dulu atau saya yang menjelaskan dulu?”

Saya kaget mendengar kata-kata beliau. Terdengar seperti orang yang sudah sangat sering diwawancara. kamipun meminta beliau menjelaskan terlebih dahulu. dan ternyata, beliau telah suka sekali dengan kebersihan sejak beliau berumur lima tahun. dan dari pengakuannya, beliau pernah menjadi petugas kebersihan di rumah sakit mata Cicendo. Uniknya, selain sebagai petugas kebersihan di rumah sakit, waktu itu beliau juga sebagai petugas kebersihan sukarela di jalanan. maka tidak heran jika banyak sekali penghargaan yang telah beliau dapatkan. baik dari pemerintah maupun swasta.

“Itu pemberian walikota”  jawabnya sambil menunjuk kearah sebuah sepeda onthel dengan perangkat kebersihan yang sudah dibilang lengkap disana mulai dari sapu lidi, dan lain-lain tidak lupa bendera merah putih terselip disana. didepan dan belakang sepeda terdapat papan yang berukuran lumayan berwarna hijau dengan tulisan berwarna kuning yang kalau dibaca berbunyi “Sepeda Kebersihan sumbangan walikotamadya DT II bandung, dan seterusnya..”

percakapan dengan pak sariban begitu seru. sebelum kami pergi, pak iban memberikan sebuah teka teki, “Dijakarta awas adaa?? di bandung ingat-ingat ada??” kamipun bingung. dan mencoba menjawab, “Awas ada sampah, ingat ada tong sampah!”. Salah!. Masa sampahnya dijakarta, tong sampahnya di bandung. gimana mau buangnya? kamipun tertawa. dan ternyata, jawabannya adalah, (Dengan bangga di jelaskan kalau sayalah yang benar jawabannya setelah puluhan kali salah) “Awas ada sule!! dan Ingat ingat ada pak iban! ingat buang sampah pada tempatnya!”

Lebih kurang satu jam kami bertemu. Seru dan sangat menginspirasi. kamipun melanjutkan untuk observasi lokasi syuting ke taman lansia.

NB: Rekaman wawancara kehapus, jadi lupa apa yang dibicarakan. hehe.. sorri

Kasih sayang yang menumbuhkan egoisme dan antipathy anak

Standar

ImageAnak adalah anugerah terindah yang dititipkan oleh Tuhan untuk makhluknya. Cara mensyukurinya dalah satunya adalah dengan cara mengasihi dan menyayangi anak tersebut. Ada banyak cara untuk menyayangi dan mengashi anak kita. Tapi dari semua cara itu pasti ada dampaknya, positif maupun negatif.

Salah satu dampak negatif dari kasih sayang adalah timbulnya egoisme dan rasa antipathy. Hal ini dikarenakan kasih sayang yang berlebihan kepada anaknya. Bissa dilihat didalam bis kota. karena banyaknya penumpang, tidak jarang dan tidak sedikit yang berdiri karena kekurangan tempat duduk dan tidak menutup kemungkinan juga orang yang seharusnya di berikan tempat duduk malah berdiri, seperti nenek-nenek dan kakek-kakek, atau ibu hamil. Uniknya lagi, mereka tidak mendapatkan tempat duduk karena adanya kursi yang diisi oleh anak yang dibawah umur yang duduk dengan nyaman disamping ibunya yang duduk di kursi satunya lagi.

Nah, itu dia masalahnya. Karena alasan kasih sayang, mereka tidak ingin anak mereka capek karena berdiri. mereka juga tidak segan membayar tiga ribu rupiah buat kursi anaknya. Tanpa mereka sadari, mereka telah meracuni otak anak mereka dengan menanam sifat egoisme dan rasa antipathy. Apalagi anak yang masih berusia belita. Sangat mudah bagi mereka untuk menyerap sikap yang akan menjadi dasar sikapnya di umur remaja atau dewasa kelak.

Logikanya begini, saat anak kita sedang asyik duduk di kursinya bukan tidak mungkin merka melihat orang-orang yang berdiri di bis, baik itu orang tua, atau ibu hamil. Dan kalau itu terlalu sering dilakukan, maka mereka juga pasti akan menganggap pemandangan itu pemandangan yang sangat tidak aneh lagi dan rasa egoisme dan antipathy-pun otomatis akan bersarang di pikiran mereka walalupun tanpa mereka sadari. Dampak lainnya adalah, mereka akan sangat tidak peka dengan keadaan yang mengakibatkan jatuhnya kepribadian anak tersebut.

Selain itu, dampak tersebut juga berpengaruh di lingkungan keluarga. Anak-anak akan kehilangan rasa untuk menghormati kedua orang tua mereka dan tidak senang kalau keinginan mereka tidak dikabulkan. bahkan jika alasannya sangat jelas dan masuk akal.

Ada sebuah kasus, dimana seorang remaja memukul Ibunya yang lagi shalat karena tidak mengabulkan keinginannya untuk mempunyai ponsel. walaupun sudah dujelaskan alasannya bahwa tidak adanya uang untu membeli ponsel. tapi ia tidak peduli dan tetap bersikeras untuk memiliki ponsel (Padang-Sumbar). disini, mungkin penyebabnya bukanlah seperti kejadian di bis. Tapi, ini bisa saja terjadi kalau anak dididik dengan cara yang salah walaupun mengatasnamakan “Kasih Sayang”.

Ibu adalah agen yang sangat penting untuk merubah keturunan bahkan merubah negara. kalau Ibunya telah mendidik dengan cara yang salah, bukan tidak mungkin, keluarga-yang dianggap sebagai benteng terkuat disuatu negara-bisa hancur dalam sekejap.

Pesan Dari Kell : Buat orang tua atau siapapun yang peduli, sebarkan, dan lakukanlah. Mulailah dari hal kecil, sekarang juga dan dari diri sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi?