2 Larangan di taman UIN Bandung

Standar

larangan yang lebih dulu ditempel di depan gedung rektorat

larangan yang ada di taman uin bandung

seorang satpam sedang memaku larangan yang saya sebut famplet di taman uin bandung

Jikalau anda berkunjung ke UIN Bandung, Yang beralamat di jalan A.H Nasution No. 105, anda akan menemukan hal yang sangat tidak enak untuk di pandang. Mulai dari sampah yang berserakan dimana-mana, parkir kenderaan yang berantakan, pembangunan yang terhenti yang sangat mengganggu serta ada hal baru yang tidak kalah “ngeri”-nya. Yaitu famplet larangan. Famplet itu bis adilihat di depan rektorat dan di taman sekitar rektorat. Ada dua macam famplet. Yang satu berbunyi “Dilarang nongkrong di depan rektorat” yang satunyalagi berbunyi dilaang nongkrong di taman saat adzan magrib”

Mengenai larangan tersebut,  beberapa mahasiswa ada yang setuju, ada yang tidak  mau tau ada juga yang tidak setuju. Yang setuju bilang, “Bagus, soalnya inikan UIN, masa magrib masih nongkrong dan kalau di rektorat, ya emang ga enak dilihat.” Dan yang tidak setuju bilang,”mengenai larangan dilarang nongkrong di rektorat, harusnya sediain dulu tempat nongkrong yang cukup, baru boleh ngelarang. Kalo  soal yang dilarang nongkrong di taman saat magrib, ya itu hak masing masing orang. Belum tentu kan yang lagi nongkrong ga shalat. Dan apa mungkin yang sedang dirumah itu shalat? Tidak,kan?”

Itulah pendapat pro dan kontra.  Kalau ditelusuri, pendapat yang pro itu benar, sebagai universitas islam yang memang seharusnya lebih agamis mahasiswanya dan memang sedikit mengganggu penglihatan tentang banyaknya yang nongkrong di depan rektorat. Tapi kalau melihat pendapat yang kontra, benar juga. Mungkin saja yang nongkrong habis shalat magrib di masjid khifa (disamping kampus) nongkrong disana buat nunggu waktu isya, walaupun  masih lemah pendapatnya tapi masih bisa dipegang. Dan mengenai larangan nongkrong di depan rektorat, itu memang tidak masuk akal. Apalagi tidak adanya taman lain yang disediakan oleh pihak kampus untuk mahasiswanya. Apakah cukup hanya dengan empat saung kecil di fakultas dakwah,tarbiyah dan syariah dan satu saung di fakultas ushuluddin untuk menampung ribuan mahasiswa uin? Apalagi keadaan kampus yang masih dalam pembangunan yang terhenti dan gersang. Itu sangat memaksakan dan tidak mungkin. Dan itulah yang menyebabkan kedua larangan itu diabaikan.

Pendapat penulis : itu adalah dua hal yang memperlihatkan ketidakberpihakkannya pihak kampus (rektor-red) kepada mahasiswa. Dan itu terlihat sangat konyol bagi mahasiswa, karena masih banyak yang lebih penting dari itu untuk dibahas. Mulai dari masalah kuliah, banyak dosen yang tidak tepat waktu, atau seenaknya, terus dari pembangunan yang semakin mengorbankan mahasiswa, pohon-pohon yang tidak dijaga. Sampah bertebaran dimana-mana karena kurangnya tempat sampah (lebih dari kurang) dan parkiran yang tidak teratur. Nah, kalau bicara soal parkiran, di halaman gedung 3 fakultas yaitu syariah, dakwah dan tarbiyah seharusnya tidak dijadikan tempat parkir, tapi malah dijadikan tempat parkir kenderaan. Lebih tidak enak dipandang dari pada sekumpulan mahasiswa yang sedang nongkrong sambil berdiskusi di depan rektorat. Serta masalah toilet juga yang  jarang tersorot oleh media kampus. sangat jorok. Seperti di aula, sangat tidak layak buat digunakan. Coba pikir, diatas masalah yang menumpuk itu, kenapa yang dilarang malah mahasiswa yang nongkrong?

Lagipula, mahasiswa yang sedang nongkrong kebanyakan dari mereka malah sedang berdiskusi tentang hal yang positif dan sangat bermanfaat. Dimana keadilan kampus bagi mahasiswa?

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s